Penulis pernah melihat
acara kartun “spongebob squarepants” di satu episodenya terdapat pesan yang di
berikan bahwa “tak ada yang dapat menangkapmu karena membaca”, pesan dari acara
animasi ini memberikan isyarat bahwasanya membaca adalah perbuatan yang tak
akan pernah mendatangkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain, tetapi
konteks yang di baca adalah bacaan baik.
Seseorang yang banyak
membaca maka ia akan dengan mudah mentransfer kata-katanya kedalam sebuah
tulisan, dan jika itu terjadi maka seseorang tersebut dikatakan sebagai seorang
penulis. Lihatlah orang-orang besar dunia sekarang ini, mereka itu membaca lalu
menulis. Lewat tulisan ini penulis ingin memberikan logika berpikir tentang
membaca dan menulis.
Pada zaman kolonial
seseorang yang di anggap berbahaya bagi kejayaan belanda akan di asingkan di
suatu tempat agar seseorang itu tak memberikan doktrin-doktrin negatif.
Kebanyakan dari mereka tentulah orang-orang yang mempunyai nilai intelektual
tinggi. Pada masa itu orang-orang yang mempunyai nilai intelektual tinggi yang
sadar akan penindasan adalah sebuah hal yang tak patut ada di muka bumi, tapi
kebanyakan dari mereka tidak berjuang dengan fisik seperti perkelahian,
peperangan, melainkan mereka berlandaskan pada buku dan pena sebagai cara ampuh
mengusik penjajah pada masa itu.
Marco Kartodikromo,
Tan malaka, Siti Soendari, R.A Kartini, Soekarno, Moh.Hatta dan Tirto Adhi
Soerjo mereka adalah segelintir pahlawan yang juga penulis, dimana senjata
mereka buku dan pena yang membuat para penjajah sangat terusik. Sosok Tirto
Adhi Soerjo yang kisahnya di tulis oleh seorang Pramoedya Ananta Toer adalah salah
satu tokoh yang sangat menginspirasi, beliau menulis dan menulis yang pada
akhirnya jasanya itu membuat dirinya dinobatkan sebagai pahlawan terutama untuk
dunia pers Indonesia. Penulis sangat mengagumi sosok Tirto Adhi Soerjo atau
Minke dalam cerita bung Pram. Ia sangat mendedikasikan dirinya untuk bangkit
dan melawan lewat tulisan dan juga mencintai sebuah kata yang dinamakan
“membaca”, bayangkan pada masa itu mencari ilmu tak semudah sekarang tapi para
pahlawan itu dapat menjadikan dirinya orang yang cerdas lewat membaca dan
menulis. Sepatutnya kita malu jika kebanyakan dari kita malas membaca dan
menulis padahal bacaan banyak tersedia di sekeliling kita.
Pada masa itu sangatlah
jelas, kebebasan mengeluarkan pendapat di kekang abis-abisan oleh pihak kolonial
tapi mereka itu tidak berhenti berpikir, suara mereka semua tak tebendung lewat
tulisannya. Buku jadi landasan lalu pena berbicara, maka Indonesia merdeka
begitulah penulis rasa pola pikir mereka saat itu melihat penindasan yang tak
berujung yang di alami Indonesia.
Mari
Membaca dan Menulis
Sekarang ini dunia
tulis menulis mulai mendapat marwahnya yang nyata sebab segala tulisan dapat
beredar luas. Saatnya kita semua sadar dengan semua kenikmatan ini. Bebas
mengeluarkan pendapat, bebas berkreasi, bebas menulis dan bebas membaca itu
semua adalah buah perjuangan dari mereka yang sekarang sudah tenang di alamnya.
Saatnya kita sadar
alasan apa yang tepat untuk malas membaca dan menulis di era sekarang ini, Pada
era orde lama ada sosok Soe Hok Gie yang terus berjuang dengan tulisannya sebab
ia melihat ketidakadilan sebagai sebuah kejahatan maka ia akan berjuang lewat
tulisan, sosok Pramoedya Ananta Toer memang tak hidup hanya di orde baru namun
karyanya banyak yang di hancurkan pada rezim bobrok ini tapi beliau tak takut
untuk terus bersuara lewat tulisan-tulisannya. Sosok-sosok ini tetap menulis
pada masa Indonesia telah merdeka namun mereka masih terus berjuang sebab
penindasan tetap akan terus terjadi di setiap masa.
Mereka menjadikan buku
dan pena sebagai senajatanya. Keganasan dan ketangguhan buku dan pena dapat
mengalahkan keganasan dan ketangguhan dari alat perang yang paling canggih
sekalipun.
Kini kita telah merdeka
tak ada satupun yang dapat menghujat kita hanya karena kita membaca dan menulis.
Banyak media yang sudah siap menerima tulisan kita lalu menerbitkannya.
Kita sebagai manusia
tak akan abadi hidup di dunia ini namun karya akan tetap hidup dan abadi, lihat
Michael Jackson karyanya sampai sekarang masih tetap di cintai, lihat Bung Karno
tulisannya yang di bukukan dengan judul “Di bawah Bendera Revolusi” tetap
menjadi primadona sebagai buku yang harus di miliki. Orang-orang ini telah
meninggal dunia namun kita masih bisa merasakan kehadirannya lewat
karya-karyanya sekarang ini, Sungguh sebuah fenomena, mereka yang mati tetap
hidup karena karyanya.
Menulislah kita sebagai
kegiatan yang nyata untuk memproduksi karya yang akan abadi meskipun kelak kita
telah tiada. Tapi untuk jadi penulis maka kita harus bersahabat dengan buku
sebab seseorang banyak membaca maka ia akan mudah menjadi penulis.
Sekarang ini kita sadar
negara kita masih di tengah kebobrokan baik di bidang hukum, pendidikan, budaya
dan semacamnya lalu kita sebagai warga negara harus bertindak untuk membenahi
ini, jadi mari bangkit melawan. Melawan
dengan cara yang elegan yakni menulis, persenjatai diri kita dengan buku dan
pena. Baca buku lalu mulai menulis sebagai sumbangsih nyata agar negara ini
berhenti berkiblat kepada keabsurdpan yang sudah semakin dalam. Mari membaca
dan menulis sesungguhnya itu adalah hal yang luar biasa nikmat, jadikan diri
kita di hargai dan di kenal oleh khalayak ramai lewat kegiatan positif seperti
menulis dan membaca.
0 komentar:
Posting Komentar