69 tahun bangsa ini telah merdeka dari belenggu
kolonialisme Belanda dan Fasisme Jepang. Namun, Perjuangan belum usai. Pasalnya
kemerdekaan itu belum berasa sampai ke akar rumput. Kemerdekaan itu ada di kehidupan
mereka yang bergelimang harta dan tahta. Hal ini mengisyaratkan bahwa
perjuangan harus terus diteriakan demi terwujudnya tatanan hidup sesuai ihwal
negeri yang merdeka.
Lihatlah disekeliling
kita, masih ada orang yang hidup dengan modal belas kasihan orang lain, masih
ada anak-anak yang tidak sekolah, masih ada orang yang harus tertidur menyerah
kepada nasib karena tidak mampu berobat, masih ada orang yang menginap di bawah
kolong jembatan, masih ada orang yang dipenjara padahal ia tidak bersalah, dan
masih banyak lagi orang-orang yang tidak merasakan hawa kemerdekaan yang
sesungguhnya.
Masalah kemiskinan,
korupsi, penganguran, ketimpangan hukum dan pendidikan masih menjadi masalah
yang kian akrab dengan manusia Indonesia. Padahal konstitusi telah jelas
mencantumkan kesejahteraan, persamaan kedudukan di depan hukum, dan pendidikan
merupakan hak setiap manusia.
Masalah ini hadir
disebabkan adanya manusia-manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Mengabaikan
tanggung jawab dan amanah yang hadir di pundaknya. Kepentingan rakyat menjadi
terabaikan. Jabatan yang hadir dalam hidupnya disalahgunakan untuk memperkaya
diri dan membodohi khalyak ramai. Hal ini mengisayaratkan bahwa ada penjajah
yang berasal dari ras dan bangsa yang sama dengan yang dijajah. Penjajah itu ialah
bangsa kita sendiri/
Hal ini jauh-jauh hari
telah diprediksi oleh Soekarno, ia mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karena
mengusir penjajah tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu
sendiri”. Terasa jelas dan nyata perkataan presiden kharismatik ini. Indonesia
yang sekarang ini lebih mengedepankan rasa individualistis ketimbang rasa
persaudaraan. Sifat acuh tak acuh menjadi primadona di kebanyakan hati manusia
Indonesia.
Persatuan dan kesatuan
hanya tinggal pelajaran di bangku sekolahan yang tidak diaplikasikan di
kehidupan nyata. Niat untuk mengubah wajah ibu pertiwi menjadi lebih baik hanya ucapan semata, yang terlihat hanya
perebutan kekuasaan. Lihatlah hampir di setiap pemilu ada perselisihan termasuk
pilpres ini. Jalan-jalan yang dilarang konstitusi diabaikan demi sebuah
kekuasaan. Kepentingan konstituen hilang sudah, yang ada tinggal kepentingan
dan hasrat pribadi yang tak tentu arah. Politik dinasti, poltik uang dan politik
diskriminasi terlihat membahana di republik ini demi satu tujuan
yakni”kekuasaan”. Rasa tenggang rasa yang diajarkan sewaktu sekolah dulu telah
“mati” dan berubah menjadi rasa sinisme satu sama lain.
Indonesia (Dulu) Kuat
Realita yang terjadi sekarang
ini berbanding terbalik dengan Indonesia sewaktu berjuang merebut kedaulatan
yang digenggam penjajah. Negeri mana yang berperang hanya bermodalkan bambu
runcing dibalut intelektual dan semangat kebersamaan, itulah Indonesia. Tak
disangka hanya dengan itu penjajah lari tunggang-langgang, pulang ke kampung
halaman.
Tanda akan kuatnya
republik ini dimulai pada tahun 1928 dimana pemuda seantero negeri bersatu dan
dengan bangga menyebut dirinya berbangsa, berbahasa satu yakni “Indonesia”.
Lanjutan hal itu yakni 1945, dimana pada tahun ini perjuangan mencapai
klimaksnya. Hawa kebebasan merebak dari sabang sampai merauke ketika Soekarno
memproklamirkan kemerdekaan.
Hal ini mengisyaratkan
bahwa Indonesia itu “dulu” kuat. Hanya bermodalkan kesatuan dan semangat untuk
merdeka serta menjadikan penindasan, feodalisme, kolonialisme dan fasisme
sebagai musuh bersama, bangsa ini mampu megusir penjajah.
Itulah kuatnya rasa
kebersamaan dan persatuan. Sekeras apapun karang yang menghalang jalan pasti
akan roboh jika diterjang beramai-ramai. Politik devide et impera Belanda harus
jadi pil pahit baginya karena sudah tak ampuh lagi membodohi bangsa Indonesia. Tapi
kejayaan itu tidak terlihat sekarang. Indonesa itu kuat “dulu” tidak serakang.
Indonesia yang sekarang telah merubah menjadi negara yang bermodalkan
individualistis dan pragmatis.
Oleh sebab itu pada
suasana kemerdekaan seperti ini, nilai-nilai perjuangan harus dipelajari dan
diamalkan sehingga tidak hanya sekadar peringatan yang berorientasinya pada
perlombaan tanpa ada pembekalan sejarah didalamnya. Orang boleh tertawa riuh
melihat perlombaan panjat pinang, tapi kebanyakan dari kita tidak mengerti apa
sebenarnya nilai filosofi dari pertandingan itu.
Melalui pertandingan
itu kita diajarkan bahwa bergerak bersama, bahu-membahu adalah fondasi yang
kuat untuk mecapai tujuan, oleh sebab itu persatuan dan kesatuan adalah harga
mati.
Masalah-masalah yang
ada di republik ini bisa teratasi dengan satu tekad yakni menjadikan hal itu
“musuh bersama”. Perjuangan harus terus didengungkan sehingga akan ada
ketakutan tersendiri bagi manusia-manusia yang ingin merugikan rakyat.
Perjuangan ini adalah perjuangan melawan bangsa sendiri oleh sebab itu bergerak
bersama menjadi hal yang absolut. Lihatlah kemiskinan, penindasan,
ketidakadilan, ketimpangan sosial senantiasa menjadikan wajah ibu pertiwi
murung, oleh sebab itu mari singkirkan sifat sinisme, individualistis dan mementingkan
kepentingan pribadi, sebab perjuangan belum usai. Ibu pertiwi masih menangis.

0 komentar:
Posting Komentar