Perjuangan Belum Usai. Medan Bisnis, 18 Agustus 2014

69 tahun bangsa ini telah merdeka dari belenggu kolonialisme Belanda dan Fasisme Jepang. Namun, Perjuangan belum usai. Pasalnya kemerdekaan itu belum berasa sampai ke akar rumput. Kemerdekaan itu ada di kehidupan mereka yang bergelimang harta dan tahta. Hal ini mengisyaratkan bahwa perjuangan harus terus diteriakan demi terwujudnya tatanan hidup sesuai ihwal negeri yang merdeka.
Lihatlah disekeliling kita, masih ada orang yang hidup dengan modal belas kasihan orang lain, masih ada anak-anak yang tidak sekolah, masih ada orang yang harus tertidur menyerah kepada nasib karena tidak mampu berobat, masih ada orang yang menginap di bawah kolong jembatan, masih ada orang yang dipenjara padahal ia tidak bersalah, dan masih banyak lagi orang-orang yang tidak merasakan hawa kemerdekaan yang sesungguhnya.
Masalah kemiskinan, korupsi, penganguran, ketimpangan hukum dan pendidikan masih menjadi masalah yang kian akrab dengan manusia Indonesia. Padahal konstitusi telah jelas mencantumkan kesejahteraan, persamaan kedudukan di depan hukum, dan pendidikan merupakan hak setiap manusia.
Masalah ini hadir disebabkan adanya manusia-manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Mengabaikan tanggung jawab dan amanah yang hadir di pundaknya. Kepentingan rakyat menjadi terabaikan. Jabatan yang hadir dalam hidupnya disalahgunakan untuk memperkaya diri dan membodohi khalyak ramai. Hal ini mengisayaratkan bahwa ada penjajah yang berasal dari ras dan bangsa yang sama dengan yang dijajah. Penjajah itu ialah bangsa kita sendiri/
Hal ini jauh-jauh hari telah diprediksi oleh Soekarno, ia mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Terasa jelas dan nyata perkataan presiden kharismatik ini. Indonesia yang sekarang ini lebih mengedepankan rasa individualistis ketimbang rasa persaudaraan. Sifat acuh tak acuh menjadi primadona di kebanyakan hati manusia Indonesia.
Persatuan dan kesatuan hanya tinggal pelajaran di bangku sekolahan yang tidak diaplikasikan di kehidupan nyata. Niat untuk mengubah wajah ibu pertiwi menjadi lebih baik  hanya ucapan semata, yang terlihat hanya perebutan kekuasaan. Lihatlah hampir di setiap pemilu ada perselisihan termasuk pilpres ini. Jalan-jalan yang dilarang konstitusi diabaikan demi sebuah kekuasaan. Kepentingan konstituen hilang sudah, yang ada tinggal kepentingan dan hasrat pribadi yang tak tentu arah.  Politik dinasti, poltik uang dan politik diskriminasi terlihat membahana di republik ini demi satu tujuan yakni”kekuasaan”. Rasa tenggang rasa yang diajarkan sewaktu sekolah dulu telah “mati” dan berubah menjadi rasa sinisme satu sama lain.
Indonesia (Dulu) Kuat
Realita yang terjadi sekarang ini berbanding terbalik dengan Indonesia sewaktu berjuang merebut kedaulatan yang digenggam penjajah. Negeri mana yang berperang hanya bermodalkan bambu runcing dibalut intelektual dan semangat kebersamaan, itulah Indonesia. Tak disangka hanya dengan itu penjajah lari tunggang-langgang, pulang ke kampung halaman.
Tanda akan kuatnya republik ini dimulai pada tahun 1928 dimana pemuda seantero negeri bersatu dan dengan bangga menyebut dirinya berbangsa, berbahasa satu yakni “Indonesia”. Lanjutan hal itu yakni 1945, dimana pada tahun ini perjuangan mencapai klimaksnya. Hawa kebebasan merebak dari sabang sampai merauke ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan.
Hal ini mengisyaratkan bahwa Indonesia itu “dulu” kuat. Hanya bermodalkan kesatuan dan semangat untuk merdeka serta menjadikan penindasan, feodalisme, kolonialisme dan fasisme sebagai musuh bersama, bangsa ini mampu megusir penjajah.
Itulah kuatnya rasa kebersamaan dan persatuan. Sekeras apapun karang yang menghalang jalan pasti akan roboh jika diterjang beramai-ramai. Politik devide et impera Belanda harus jadi pil pahit baginya karena sudah tak ampuh lagi membodohi bangsa Indonesia. Tapi kejayaan itu tidak terlihat sekarang. Indonesa itu kuat “dulu” tidak serakang. Indonesia yang sekarang telah merubah menjadi negara yang bermodalkan individualistis dan pragmatis.
Oleh sebab itu pada suasana kemerdekaan seperti ini, nilai-nilai perjuangan harus dipelajari dan diamalkan sehingga tidak hanya sekadar peringatan yang berorientasinya pada perlombaan tanpa ada pembekalan sejarah didalamnya. Orang boleh tertawa riuh melihat perlombaan panjat pinang, tapi kebanyakan dari kita tidak mengerti apa sebenarnya nilai filosofi dari pertandingan itu.
Melalui pertandingan itu kita diajarkan bahwa bergerak bersama, bahu-membahu adalah fondasi yang kuat untuk mecapai tujuan, oleh sebab itu persatuan dan kesatuan adalah harga mati.

Masalah-masalah yang ada di republik ini bisa teratasi dengan satu tekad yakni menjadikan hal itu “musuh bersama”. Perjuangan harus terus didengungkan sehingga akan ada ketakutan tersendiri bagi manusia-manusia yang ingin merugikan rakyat. Perjuangan ini adalah perjuangan melawan bangsa sendiri oleh sebab itu bergerak bersama menjadi hal yang absolut. Lihatlah kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, ketimpangan sosial senantiasa menjadikan wajah ibu pertiwi murung, oleh sebab itu mari singkirkan sifat sinisme, individualistis dan mementingkan kepentingan pribadi, sebab perjuangan belum usai. Ibu pertiwi masih menangis.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar