Penulis yang juga
pengajar les, pernah bercerita tentang indahnya membaca tapi sayang seribu
sayang anak les itu tidak memiliki minat mendengar cerita mengenai membaca,
berbanding terbalik ketika penulis bercerita acara di televisi seperti sinetron
dan lain semacamnya, berlanjut juga ketika penulis bercerita dengan keponakan
dan teman sejawat mahasiswa yang merupakan pelajar, begitu mendengar kata
membaca maka mendadak terserang rasa acuh akan hal itu.
Padahal sudah kewajiban
bagi seorang pelajar untuk membaca. Sahabat terdekat dari pelajar ialah buku.
Tapi kini pelajar pelan-pelan meninggalkan kegiatan yang katanya “membosankan”
itu. Kebanyakan pelajar di negeri ini rela menghabiskan waktunya berlama-lama
bermain game di warnet. Tidak berhenti disitu saja pelajar di negeri ini
sehabis pulang sekolah maka ia akan asik bercinta dengan smartphone yang ia
punya.
Kegiatan pelajar di
malam hari juga cukup menyesakkan dada. Malam hari yang seharusnya jadi waktu
yang tepat untuk membaca dan mengulang pelajaran di sekolah kini malah
dijadikan sebagai waktu menonton di televisi.
Mindset yang berkembang
di pelajar terkait membaca adalah kegiatan yang membosankan dan membuang waktu.
Bukan tidak jarang ada pelajar yang senantiasa berteman dengan buku tapi malah
di “bully” dengan sebutan “Cupu”. Kegiatan membaca di rasa tidak gaul dan sudah
ketinggalan zaman.
Inilah sebuah isyarat
bahwa pelajar kita di masa depan, akan tergerus zaman dan kalah bersaing dengan
pelajar lain di dunia, jika penyakit malas membaca ini senantiasa berkembang di
kebanyakan pelajar. Tapi menurut pantuan penulis di sekeliling tempat penulis
tinggal, penyakit ini bukan hanya medera pelajar tapi guru dan orangtua dari
pelajar itu sendiri. Sekiranya penyakit ini semakin kompleks saja.
Oknum-oknum yang
seharusnya menjadi tauladan jauh dari yang diharapkan. Untuk orangtua sekiranya
membaca sangat jarang dilakukan karena alasan kesibukan kerja. Guru juga
demikian, mindset yang tahu segalanya menjadikan kebanyakan guru enggan
membaca. Padahal kegiatan membaca adalah kegiatan yang wajib dilakukan oleh
guru. Tak heran jika pelajarnya malas membaca jikalau kegiatan membaca juga
tidak pernah ia jumpai dari orang-orang di sekelilingnya.
Penyakit malas membaca
ini juga penulis jumpai di perpustakaan yang seharusnya dijadikan tempat untuk
membaca, terkuhsus di perpustakaan tempat penulis menuntut ilmu. Di salah satu
ruangan jelas tertulis “ruang baca”, alangkah sayang seribu sayang kini ruangan
itu dijadikan tempat untuk makan siang. Kenyamanan dari ruangan itu telah
lenyap.
Tak kalah juga ketika penulis
berkunjung ke perpustakaan daerah di Sumatera Utara. Di perpustakaan itu
disediakan ruangan yang sekiranya bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan
dengan membaca di media-media internet, memang ruangan ini tak pernah sunyi
tapi ruangan ini juga berdisfungsi jadi ruangan yang diisi oleh pelajar yang
asik berselancar di media sosial.
Penulis juga masih
ingat ketika SMP dulu, sewaktu mobil perpustakaan keliling datang berkunjung.
Mobil itu hanya dihampiri oleh beberapa orang siswa itupun hanya melihat saja
tanpa ada reaksi selayaknya seorang pelajar melihat mobil yang menjajakan ilmu
datang menghampiri. Benar-benar penyakit malas membaca ini semakin akut saja
Melihat kejadian ini
maka tidak heran jikalau banyak pelajar kita yang lari dari hakikatnya sebagai
pelajar. Kebanyakan pelajar di negeri ini identik dengan gaya hidup yang
hedonis. Perwujudan manusia yang humanis dan utopis sebagaimana tujuan belajar
tidak terlihat.
Buku yang senantiasa
menjanjikan segudang ilmu untuk bekal kehidupan di dunia maupun di surga kini
telah bersemayam di rak-rak buku si pelajar tanpa pernah di baca. Si empunya
kini lebih asik dengan barang elektronik, tontonan yang eksotik tanpa nilai
akademik. Budaya membaca dirasa sebagai kebudayaan yang ketinggalan zaman dan
membosankan. Hal ini harus segera di tanggulangi, penyakit yang satu ini memang
tak sekejam penyakit jantung dan kanker yang seketika dapat membunuh, tapi
penyakit yang satu ini dapat membunuh secara perlahan tapi menyakitkan dengan
kebodohan sebagai akibatnya.
Peran
Aktif Pihak Terkait
Oleh sebab itu harus
ada kegiatan yang reaktif dari berbagai kalangan yang bertanggung jawab mulai
dari pemerintah, guru, orangtua sampai pelajar itu sendiri. Terkhusus untuk
guru dan orangtua kegiatan membaca harus ditanamkan sejak dini, perlihatkan
bahwa membaca itu baik. Ceritakan juga motivasi tentang menjanjikannya kegiatan
membaca kepada anak/siswa agar sekiranya ada dorongan dan tindakan nyata yang
dilihatnya sehingga kegiatan membaca yang semula asing pelan-pelan menjadi
akrab.
Lalu untuk pelajar
sendiri. Sekiranya pahami hakikat kita sebagai pelajar. Kegiatan yang absurd
dan tuntutan hak yang dikumandangkan sekiranya harus sejalan dengan kewajiban
dan tanggung jawab kita sebagai pelajar seperti membaca, sadari dan pahami masa
depan ada di tangan kita oleh sebab itu mari wujudkan mimpi indah cita-cita itu
dengan membaca. Budayakan membaca sebagai kegiatan yang mengasyikan sehingga
jalan meraih cita-cita semakin mudah.
0 komentar:
Posting Komentar