Penyakit Pelajar Malas Membaca. Harian Jurnal Asia Medan


Membaca adalah satu-satunya cara menambah pengetahuan. Membaca juga merupakan kegiatan yang harus populer di hidup manusia, terkhusus pelajar. Pasalnya hanya dengan membacalah ilmu itu akan didapat dan melekat di dalam pikiran, apalagi ketika membaca dibarengi dengan kegiatan menulis, niscaya kecerdasan akan senantiasa merangkul kita dalam kehidupan. Kegiatan membaca seharusnya akrab dengan pelajar, tapi inilah anomali yang ada di Indonesia, kebanyakan pelajarnya memiliki penyakit yakni malas membaca.

Penulis yang juga pengajar les, pernah bercerita tentang indahnya membaca tapi sayang seribu sayang anak les itu tidak memiliki minat mendengar cerita mengenai membaca, berbanding terbalik ketika penulis bercerita acara di televisi seperti sinetron dan lain semacamnya, berlanjut juga ketika penulis bercerita dengan keponakan dan teman sejawat mahasiswa yang merupakan pelajar, begitu mendengar kata membaca maka mendadak terserang rasa acuh akan hal itu.
Padahal sudah kewajiban bagi seorang pelajar untuk membaca. Sahabat terdekat dari pelajar ialah buku. Tapi kini pelajar pelan-pelan meninggalkan kegiatan yang katanya “membosankan” itu. Kebanyakan pelajar di negeri ini rela menghabiskan waktunya berlama-lama bermain game di warnet. Tidak berhenti disitu saja pelajar di negeri ini sehabis pulang sekolah maka ia akan asik bercinta dengan smartphone yang ia punya.
Kegiatan pelajar di malam hari juga cukup menyesakkan dada. Malam hari yang seharusnya jadi waktu yang tepat untuk membaca dan mengulang pelajaran di sekolah kini malah dijadikan sebagai waktu menonton di televisi.
Mindset yang berkembang di pelajar terkait membaca adalah kegiatan yang membosankan dan membuang waktu. Bukan tidak jarang ada pelajar yang senantiasa berteman dengan buku tapi malah di “bully” dengan sebutan “Cupu”. Kegiatan membaca di rasa tidak gaul dan sudah ketinggalan zaman.
Inilah sebuah isyarat bahwa pelajar kita di masa depan, akan tergerus zaman dan kalah bersaing dengan pelajar lain di dunia, jika penyakit malas membaca ini senantiasa berkembang di kebanyakan pelajar. Tapi menurut pantuan penulis di sekeliling tempat penulis tinggal, penyakit ini bukan hanya medera pelajar tapi guru dan orangtua dari pelajar itu sendiri. Sekiranya penyakit ini semakin kompleks saja.
Oknum-oknum yang seharusnya menjadi tauladan jauh dari yang diharapkan. Untuk orangtua sekiranya membaca sangat jarang dilakukan karena alasan kesibukan kerja. Guru juga demikian, mindset yang tahu segalanya menjadikan kebanyakan guru enggan membaca. Padahal kegiatan membaca adalah kegiatan yang wajib dilakukan oleh guru. Tak heran jika pelajarnya malas membaca jikalau kegiatan membaca juga tidak pernah ia jumpai dari orang-orang di sekelilingnya.
Penyakit malas membaca ini juga penulis jumpai di perpustakaan yang seharusnya dijadikan tempat untuk membaca, terkuhsus di perpustakaan tempat penulis menuntut ilmu. Di salah satu ruangan jelas tertulis “ruang baca”, alangkah sayang seribu sayang kini ruangan itu dijadikan tempat untuk makan siang. Kenyamanan dari ruangan itu telah lenyap.
Tak kalah juga ketika penulis berkunjung ke perpustakaan daerah di Sumatera Utara. Di perpustakaan itu disediakan ruangan yang sekiranya bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan dengan membaca di media-media internet, memang ruangan ini tak pernah sunyi tapi ruangan ini juga berdisfungsi jadi ruangan yang diisi oleh pelajar yang asik berselancar di media sosial.
Penulis juga masih ingat ketika SMP dulu, sewaktu mobil perpustakaan keliling datang berkunjung. Mobil itu hanya dihampiri oleh beberapa orang siswa itupun hanya melihat saja tanpa ada reaksi selayaknya seorang pelajar melihat mobil yang menjajakan ilmu datang menghampiri. Benar-benar penyakit malas membaca ini semakin akut saja
Melihat kejadian ini maka tidak heran jikalau banyak pelajar kita yang lari dari hakikatnya sebagai pelajar. Kebanyakan pelajar di negeri ini identik dengan gaya hidup yang hedonis. Perwujudan manusia yang humanis dan utopis sebagaimana tujuan belajar tidak terlihat.
Buku yang senantiasa menjanjikan segudang ilmu untuk bekal kehidupan di dunia maupun di surga kini telah bersemayam di rak-rak buku si pelajar tanpa pernah di baca. Si empunya kini lebih asik dengan barang elektronik, tontonan yang eksotik tanpa nilai akademik. Budaya membaca dirasa sebagai kebudayaan yang ketinggalan zaman dan membosankan. Hal ini harus segera di tanggulangi, penyakit yang satu ini memang tak sekejam penyakit jantung dan kanker yang seketika dapat membunuh, tapi penyakit yang satu ini dapat membunuh secara perlahan tapi menyakitkan dengan kebodohan sebagai akibatnya.

Peran Aktif Pihak Terkait
Oleh sebab itu harus ada kegiatan yang reaktif dari berbagai kalangan yang bertanggung jawab mulai dari pemerintah, guru, orangtua sampai pelajar itu sendiri. Terkhusus untuk guru dan orangtua kegiatan membaca harus ditanamkan sejak dini, perlihatkan bahwa membaca itu baik. Ceritakan juga motivasi tentang menjanjikannya kegiatan membaca kepada anak/siswa agar sekiranya ada dorongan dan tindakan nyata yang dilihatnya sehingga kegiatan membaca yang semula asing pelan-pelan menjadi akrab.

Lalu untuk pelajar sendiri. Sekiranya pahami hakikat kita sebagai pelajar. Kegiatan yang absurd dan tuntutan hak yang dikumandangkan sekiranya harus sejalan dengan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai pelajar seperti membaca, sadari dan pahami masa depan ada di tangan kita oleh sebab itu mari wujudkan mimpi indah cita-cita itu dengan membaca. Budayakan membaca sebagai kegiatan yang mengasyikan sehingga jalan meraih cita-cita semakin mudah.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar