Tapi perekonomian Tanah Karo kini mulai goyah karena pendapatan pariwisatanya yang berasal dari Kota Berastagi tak sebaik biasanya. Abu vulkanik Gunung Sinabung telah menutupi seluruh kota wisata Tanah Karo itu. Jalan raya sudah berubah menjadi tempat bernanungnya abu-abu. Kota Berastagi bak kota mati. Wisatawan hampir tidak ada yang berkunjung ke daerah itu. Warganya juga tak berani keluar rumah akibat lebatnya hujan abu turun.
Tapi meskipun bencana ini mempengaruhi stabilitas perekonomian Tanah Karo, pemda setempat dan pemerintah provinsi bagaikan menutup mata dan telinga. Melepaskan berbagai janji-janji yang tak kunjung direalisasi.
Dapatkah kita bayangkan betapa sedih dan stresnya para pengungsi itu? Mereka mungkin bisa makan pagi tapi belum tentu malamnya. Angin malam menusuk tulang mereka akibat dinginnya udara ditambah lagi tempat pengungsian yang kurang layak. Mereka juga harus memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk menyambung hidup, membiayai pendidikan anak-anak, belum lagi harus memikirkan kerugian gagal panen yang diderita.
Sudah berbulan-bulan mereka menaman dan mengharapkan hasil panen yang melimpah, tapi kini mereka harus menelan pil pahit tanaman tak satupun dapat dipanen. Sebagian dari mereka berinisiatif untuk menyewa lahan di daerah yang aman seperti anjuran petugas, tapi ternyata abu vulkanik juga menyelimuti lahan pertanian yang mereka sewa.
Duuhh, membayangkannya saja hampir jatuh air mata. Sedih hati membayangkan nasib para pengungsi yang tak kunjung dijamah oleh pemerintah. Pantas saja ada pengungsi yang nekat bekerja di ladangnya meskipun bahaya mengancam karena jika menunggu uluran tangan pemerintah bagaikan menunggu sesuatu yang tak pasti.
Konon katanya perkampungan radius tiga kilometer mendapatkan jatah relokasi ke daerah yang aman dan menguntungkan. Wacana ini telah lama bergulir, tapi ternyata SK penetapan lokasi lahan untuk relokasi warga dari Plt Bupati Karo, Terkelin Brahmana, baru-baru saja diterbitkan. Sekitar 1.212 jiwa yang berada di radius tiga kilometer dari puncak gunung akan direlokasi ke kawasan Sosar, Kecamatan Merek. Sudah berbulan-bulan pengungsi itu menunggu nasibnya untuk direlokasi tapi tak kunjung direlokasi.
Janji biaya jatah hidup per bulan yang digadang-gadang juga tak kunjung datang menghampiri para pengungsi. Dari berbagai surat kabar penulis membaca bahwa pemerintah daerah setempat hanya memberikan motivasi agar korban erupsi Gunung Sinabung lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup ke depan. Apalah arti motivasi, yang dibutuhkan pengungsi ialah realisasi dari janji yang pernah terucap. Itu adalah motivasi yang jauh lebih indah dan nyata, tidak hanya retorika.
Memang awalnya para pengungsi sangat diperhatikan, itu pun dari kalangan swasta bukan dari pemerintah daerah ataupun provinsi. Tapi karena lamanya durasi bencana, bantuan pun habis dan tak lagi datang dari kalangan swasta. Jika sudah begini ke pemerintahlah satu-satunya tempat mereka berharap, namun sayang pemerintah daerah maupun pusat sibuk dengan urusan perebutan kekuasaan. Wakil-wakil rakyat yang baru terpilih (terkhusus dari dapil Tanah Karo) juga seakan melupakan janjinya. Menutup hati, mata dan telinga. Duka saudara-saudara yang tak tentu nasibnya telah dilupakan seiring indahnya alunan tahta dan kekuasaan. Nasib anak-anak bangsa yang tak lagi dapat mengeyam pendidikan akibat bencana alam juga luput dari nurani pemerintah.
Jadilah Malaikat Penolong
Pengungsi adalah manusia yang harus diperlakukan layaknya manusia. Setiap hak lewat janji-janji manis terdahulu haruslah direalisasikan. Sudah berapa banyak keuntungan negara yang didapat dari eksotiknya bentang alam Tanah Karo sehingga wajarlah ada perhatian lebih kepada para pengungsi.
Lewat tulisan ini penulis ingin mengetuk hati pemerintah daerah ataupun pusat, baik eksekutif maupun legislatif. Alangkah baiknya sudahi sedikit kegaduhan politik itu, lihat ke bawah nasib mereka-mereka yang hidupnya merana. Mereka yang hidupnya gelap karena masa depannya hampir musnah terkena dahsyatnya letusan gunung. Mereka yang harus menahan kepedihan memikirkan nasib yang tak kunjung membaik.
Coba posisikan diri sebagai mereka, apakah sanggup? Oleh sebab itu berilah bantuan dan perhatian. Bantuan yang tidak sekadar retorika. Sesungguhnya perbuatan baik akan dikenang dan mendapat berkah. Harapan pengungsi ada di pundakmu wahai malaikat penolong.
0 komentar:
Posting Komentar