Terima Kasih Pak Beye. Analisa, 20 Agustus 2014


 Mendadak sedih hati ketika melihat mimik presiden SBY ketika menyampaikan pidato kenegaraan, 15 Agustus 2014 di gedung MPR. Dengan mimik wajah sayu nan sedih beliau mengatakan “Ini adalah pidato terakhir saya sebagai presiden di mimbar yang terhormat ini”, mendadak hening gedung MPR itu, tapi kembali riuh dibanjiri tepuk tangan ketika beliau menyambung perkataannya, “tapi perasaaan semangat saya masih sama ketika pertama kali berpidato di mimbar ini”. Tak bisa dipungkiri ada perasaan sedih melepas kepergian presiden yang senantiasa menjadi pengayom selama 10 tahun di republik ini.
Meskipun ada banyak kalangan yang menilai pemerintahan 2009-2014 dibawah kepemimpinannya masih gagal, namun kinerjanya selama 10 tahun itu patut diapresiasi. Menjadi presiden bukanlah tugas yang mudah, oleh sebab itu baik atau buruk ia tetap harus diberi salam hangat diujung karirnya sebagai presiden republik ini.
Perlu dicatat beliau ini adalah orang biasa yang menjadi tentara lalu menjadi menteri hingga menjadi presiden dengan catatan sejarah baru diukirnya. Beliaulah presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat dan berhasil menjabat sebagai presiden selama II periode. Demokrasi yang diimpikan rakyat diamanahkan ke pundaknya selama 10 tahun, ini mengisyaratkan sosok pria yang akrab di sapa pak “beye” ini cukup dicintai.
Tapi meskipun begitu, 5 tahun terakhir ini pemerintahannya mendapat banyak sorotan dari berbgai kalangan. Masalah-masalah seperti korupsi, kolusi, nepotisme, mafia hukum, mafia pajak, perihal kemiskinan dan hukum yang jauh dari harapan menjadi biang dari banyaknya kalangan yang merasa tidak puas di periode keduanya ini.
LSN melakukan survei terkait pemerintahan SBY jilid dua ini, peneliti utama LSN, Dipa Pradita mengatakan “dalam sebuah survei LSN, 49,2 persen responden menilai kondisi negara pada periode kedua pemerintahan Presiden SBY tidak ada perubahan dan perbaikan yang signifikan. Bahkan, sekitar 30,2 persen menilai kondisi negara semakin buruk, dan hanya 18,5 persen yang menilai kondisi negara semakin baik (www.tempo.co).
Tapi menurut penulis sendiri pemerintahan SBY 2009-2014 ini tidak buruk-buruk amat. Berdasarkan data yang penulis dapat dari website resmi presiden yakni www.presidenri.go.id dikatakan bahwa cadangan devisa Indonesia mencapai 124,6 Miliar, melonjak tinggi dari masa Gusdur-Megawati yang hanya 36,3 Miliar. Angka PDB Indonesia juga menempati 15 besar dunia dengan 9,68 Triliun.
Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) juga mengalami kenaikan 4 kali lipat dibanding masa Soeharto dan Gusdur. Pada masa Soeharto pendapatan dan belanja hanya berkisar di angka 200 Triliun, pada masa Abdurrahman Wahid (Gusdur) berkisar di 400 Triliun tapi di masa SBY angka itu mencapai kisaran 1000 triliun. Ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa yang kalangan masih banyak belum mengetahuinya.
Pendapatan per kapita juga mengalami kenaikan, dimana pasa masa Gusdur-Mega hanya mencapai 10,55 juta tapi dimasa SBY mencapai 36,5 juta. Tumbuh kembangnya ekonomi Indonesia juga tak terlepas dari kinerja tangan dingin SBY yang berhasil menghantarkan Indonesia berada di nomor 2 sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi paling signifikan diantara negara G20.
Program-program perlindungan sosial warga miskin juga banyak yakni BLSM, Raskin dan PKH, meskipun terkadang ada kendala di sana sini tapi program ini cukup membantu pengentasan kemiskinan di Indonesia, hal itu terbukti dengan keluarnya 8 juta orang dari garis kemiskinan.
Untuk dunia pendidikan pemerintahan SBY yang berani menganggarkan 20%  dari dana APBN. Terkhusus untuk hal ini penulis beranggapan, soal eksekusi yang kerap menjadi masalah. Titik lemahnya presiden SBY ialah soal ketegasan sebab pendidikan Indonesia juga masih belum rata dari Sabang-Marauke, tapi meskipun begitu hal ini dapat menjadi refrensi bagi presiden selanjutnya, demi pendidikan yang lebih baik lagi.
Dunia kesehatan adalah dunia yang menurut penulis pada masa pemerintahan SBY ini yang paling “kinclong”. Program BPJS kesehatan yang hadir pada masa pemerintahan beliau merupakan angin sejuk, dimana perihal kesehatan merupakan masalah foundamental di pemerintahan sebelumnya. Selain itu jumlah dokter di Indonesia mengalami peningkatan dari 35.735 menjadi 76.523 orang. Jika hal ini terus dikembangkan dengan eksekusi program yang baik penulis yakin perkataan “miskin dilarang sakit” tidak ada lagi di republik ini.
Pembangun rumah layak huni juga mengalami kenaikan yang signifikan, dimana pada masa Abdurrahman Wahid-Mega berada pada angka 261.878 unit sedangkan di masa SBY angka ini melesat jauh menjadi 868.685 unit.
Terkhusus pada masa pemerintahan SBY ini, perihal korupsi menjadi sebuah kinerja yang cukup mumpuni. Komitmen SBY membrantas koruptor tanpa pandang bulu kiranya patut diapresiasi meskipun harus membuat partainya melorot di pemilu 2014. Fungsionaris parpol, kerabat, menteri, kepala daerah semuanya menjadi korban keganasan instansi terkait seperi KPK, Polri dan Kejaksaan sebagai bentuk komitmen pembrantasan korupsi. Pada masa pemerintahan SBY, KPK dan Polri telah menyelamatkan 3 triliun lebih uang negara yang ingin dicuri.
Pada masa ini penangkapan koruptor benar-benar digalakkan sehingga banyak publik yang termakan opini buruk baik dari media dan kalangan yang tidak suka dengan SBY, beranggapan masa SBY adalah masa korup, karena melihat banyaknya kasus korupsi, padahal banyaknya kasus korupsi itu telah ditagani secara hukum.
Banyak lagi prestasi yang dibuahkan SBY selama 10 tahun pemerintahannya. Sekiranya penghinaan dan hujatan yang ditujukan kepadanya perlu ditinjau kembali. Penulis beranggapan bahwa orang-orang yang didalam lingkaran beliaulah yang membuat citra beliau menjadi buruk.
Segudang prestasi yang penulis utarakan disini adalah sebuah capaian dalam rangka mengembang amanah rakyat patut kita ucapkan terima kasih. Pembenahan Indonesia dari segala sisi memang masih butuh waktu lebih banyak. Semoga presiden selanjutnya dapat melanjutkan trend dan capaian positif ini.
Fakta yang terukir dari kinerja presiden SBY menghadirkan hawa sejuk, tak disangka sudah banyak target yang terlampui, meskipun ada beberapa hal yang negatif tapisegi positifnya masih lebih harum. Kinerjamu selalu diingat rakyat Indonesia, gaya dan ciri khasmu saat berpidato menjadi refrensi bagi anak cucu kedepannya, sungguh sebuah hal yang membanggakan. Terima Kasih Pak Beye.


Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar