
Mendadak sedih hati ketika melihat mimik presiden
SBY ketika menyampaikan pidato kenegaraan, 15 Agustus 2014 di gedung MPR.
Dengan mimik wajah sayu nan sedih beliau mengatakan “Ini adalah pidato terakhir
saya sebagai presiden di mimbar yang terhormat ini”, mendadak hening gedung MPR
itu, tapi kembali riuh dibanjiri tepuk tangan ketika beliau menyambung
perkataannya, “tapi perasaaan semangat saya masih sama ketika pertama kali
berpidato di mimbar ini”. Tak bisa dipungkiri ada perasaan sedih melepas
kepergian presiden yang senantiasa menjadi pengayom selama 10 tahun di republik
ini.
Meskipun ada banyak
kalangan yang menilai pemerintahan 2009-2014 dibawah kepemimpinannya masih
gagal, namun kinerjanya selama 10 tahun itu patut diapresiasi. Menjadi presiden
bukanlah tugas yang mudah, oleh sebab itu baik atau buruk ia tetap harus diberi
salam hangat diujung karirnya sebagai presiden republik ini.
Perlu dicatat beliau
ini adalah orang biasa yang menjadi tentara lalu menjadi menteri hingga menjadi
presiden dengan catatan sejarah baru diukirnya. Beliaulah presiden pertama yang
dipilih langsung oleh rakyat dan
berhasil menjabat sebagai presiden selama II periode. Demokrasi yang diimpikan
rakyat diamanahkan ke pundaknya selama 10 tahun, ini mengisyaratkan sosok pria
yang akrab di sapa pak “beye” ini cukup dicintai.
Tapi meskipun begitu, 5 tahun terakhir ini pemerintahannya mendapat
banyak sorotan dari berbgai kalangan. Masalah-masalah seperti korupsi, kolusi,
nepotisme, mafia hukum, mafia pajak, perihal kemiskinan dan hukum yang jauh
dari harapan menjadi biang dari banyaknya kalangan yang merasa tidak puas di
periode keduanya ini.
LSN melakukan survei terkait pemerintahan SBY jilid dua ini, peneliti
utama LSN, Dipa Pradita mengatakan “dalam sebuah
survei LSN, 49,2 persen responden menilai kondisi negara pada periode kedua
pemerintahan Presiden SBY tidak ada perubahan dan perbaikan yang signifikan.
Bahkan, sekitar 30,2 persen menilai kondisi negara semakin buruk, dan hanya 18,5
persen yang menilai kondisi negara semakin baik (www.tempo.co).
Tapi menurut penulis sendiri pemerintahan SBY 2009-2014 ini tidak
buruk-buruk amat. Berdasarkan data yang penulis dapat dari website resmi
presiden yakni www.presidenri.go.id dikatakan bahwa cadangan devisa Indonesia
mencapai 124,6 Miliar, melonjak tinggi dari masa Gusdur-Megawati yang hanya
36,3 Miliar. Angka PDB Indonesia juga menempati 15 besar dunia dengan 9,68
Triliun.
Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) juga mengalami kenaikan 4
kali lipat dibanding masa Soeharto dan Gusdur. Pada masa Soeharto pendapatan
dan belanja hanya berkisar di angka 200 Triliun, pada masa Abdurrahman Wahid
(Gusdur) berkisar di 400 Triliun tapi di masa SBY angka itu mencapai kisaran
1000 triliun. Ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa yang kalangan
masih banyak belum mengetahuinya.
Pendapatan per kapita juga mengalami kenaikan, dimana pasa masa
Gusdur-Mega hanya mencapai 10,55 juta tapi dimasa SBY mencapai 36,5 juta.
Tumbuh kembangnya ekonomi Indonesia juga tak terlepas dari kinerja tangan
dingin SBY yang berhasil menghantarkan Indonesia berada di nomor 2 sebagai
negara dengan pertumbuhan ekonomi paling signifikan diantara negara G20.
Program-program perlindungan sosial warga miskin juga banyak yakni BLSM,
Raskin dan PKH, meskipun terkadang ada kendala di sana sini tapi program ini
cukup membantu pengentasan kemiskinan di Indonesia, hal itu terbukti dengan
keluarnya 8 juta orang dari garis kemiskinan.
Untuk dunia pendidikan pemerintahan SBY yang berani menganggarkan
20% dari dana APBN. Terkhusus untuk hal
ini penulis beranggapan, soal eksekusi yang kerap menjadi masalah. Titik
lemahnya presiden SBY ialah soal ketegasan sebab pendidikan Indonesia juga
masih belum rata dari Sabang-Marauke, tapi meskipun begitu hal ini dapat
menjadi refrensi bagi presiden selanjutnya, demi pendidikan yang lebih baik
lagi.
Dunia kesehatan adalah dunia yang menurut penulis pada masa pemerintahan
SBY ini yang paling “kinclong”. Program BPJS kesehatan yang hadir pada masa
pemerintahan beliau merupakan angin sejuk, dimana perihal kesehatan merupakan
masalah foundamental di pemerintahan sebelumnya. Selain itu jumlah dokter di
Indonesia mengalami peningkatan dari 35.735 menjadi 76.523 orang. Jika hal ini terus
dikembangkan dengan eksekusi program yang baik penulis yakin perkataan “miskin
dilarang sakit” tidak ada lagi di republik ini.
Pembangun rumah layak
huni juga mengalami kenaikan yang signifikan, dimana pada masa Abdurrahman
Wahid-Mega berada pada angka 261.878 unit sedangkan di masa SBY angka ini
melesat jauh menjadi 868.685 unit.
Terkhusus pada masa
pemerintahan SBY ini, perihal korupsi menjadi sebuah kinerja yang cukup
mumpuni. Komitmen SBY membrantas koruptor tanpa pandang bulu kiranya patut
diapresiasi meskipun harus membuat partainya melorot di pemilu 2014.
Fungsionaris parpol, kerabat, menteri, kepala daerah semuanya menjadi korban
keganasan instansi terkait seperi KPK, Polri dan Kejaksaan sebagai bentuk
komitmen pembrantasan korupsi. Pada masa pemerintahan SBY, KPK dan Polri telah
menyelamatkan 3 triliun lebih uang negara yang ingin dicuri.
Pada masa ini
penangkapan koruptor benar-benar digalakkan sehingga banyak publik yang
termakan opini buruk baik dari media dan kalangan yang tidak suka dengan SBY,
beranggapan masa SBY adalah masa korup, karena melihat banyaknya kasus korupsi,
padahal banyaknya kasus korupsi itu telah ditagani secara hukum.
Banyak lagi prestasi
yang dibuahkan SBY selama 10 tahun pemerintahannya. Sekiranya penghinaan dan
hujatan yang ditujukan kepadanya perlu ditinjau kembali. Penulis beranggapan
bahwa orang-orang yang didalam lingkaran beliaulah yang membuat citra beliau
menjadi buruk.
Segudang prestasi yang
penulis utarakan disini adalah sebuah capaian dalam rangka mengembang amanah
rakyat patut kita ucapkan terima kasih. Pembenahan Indonesia dari segala sisi
memang masih butuh waktu lebih banyak. Semoga presiden selanjutnya dapat
melanjutkan trend dan capaian positif ini.
Fakta yang terukir dari
kinerja presiden SBY menghadirkan hawa sejuk, tak disangka sudah banyak target
yang terlampui, meskipun ada beberapa hal yang negatif tapisegi positifnya
masih lebih harum. Kinerjamu selalu diingat rakyat Indonesia, gaya dan ciri
khasmu saat berpidato menjadi refrensi bagi anak cucu kedepannya, sungguh
sebuah hal yang membanggakan. Terima Kasih Pak Beye.
0 komentar:
Posting Komentar