Negara Terbelah Dua. Medan Bisnis, 16 Oktober 2014

Indonesia adalah negara yang mengagungkan paham demokrasi dalam kehidupan bernegara. Kepentingan rakyat dijadikan acuan utama dalam setiap pengambilan keputusan. Pemegang kekuasaan tertinggi, itulah rakyat. Tapi, demokrasi itu seakan mati dan berganti menjadi oligarki yang membuat negara terpecah menjadi dua. Layaknya perang dunia terdahulu, blok barat melawan blok timur. Inilah realita yang sekarang terjadi di Indonesia.
Dua kubu yang sama-sama mengatasnamakan rakyat terlihat begitu bergairah dalam bersuara dan mempertontonkan haus akan kekuasaan. Mental pecundang yang tak siap kalah menjadi dewa dalam hati elite-elite yang ingin memarginalisasikan pemerintah yang telah diberi mandat oleh rakyat.
Dua kubu itu ialah Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). KIH adalah koalisi partai yang menghantarkan presiden terpilih Jokowi-JK menduduki singgasana kepresidenan, dengan kata lain posisi eksekutif resmi dipegang oleh KIH. Di sisi lain, parlemen (legislatif) dikuasai sepenuhnya oleh KMP. Negara Indonesia seakan terpecah menjadi dua. Polarisasi hasil pilpres terus membuat hati rakyat menjadi galau membayangkan kondisi negara ini lima tahun kedepan.
Adanya polarisasi yang sangat mencolok antara KIH dan KMP mengakibatkan kondisi negara menjadi absurd dan mengkhawatirkan. Perekonomian menjadi tidak stabil, investor “angkat koper” lari menjauhi Indonesia. Harga saham dan rupiah semakin melemah saja. Pasar melhat efek negatif perihal ini, sekiranya jika polarisasi terus memanas dan mempertontonkan keegoisan bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami “krisis moneter jilid II”, yang pada akhirnya membuat rakyat kembali menderita.
Hawa Oligarki
Melihat kondisi perpolitikan Indonesia yang menghadirkan dua pendulum politik yang senantiasa bertabrakan, seakan menasbihkan bahwa Indonesia perlahan-lahan menanggalkan asas kedaulatan rakyat sebagaimana esensi dari demokrasi. Demokrasi seakan kata tanpa makna yang jelas. Kedaulatan rakyat perlahan-lahan hanya tinggal isapan jempol belaka. Indonesia sudah mulai terasa sebagai negara penganut oligarki.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. Pembuktian hawa oligarki ini yakni dengan pemerintahan yang berdasarkan kepentingan kelompok seperti KIH dan KMP yang dikendalikan oleh elite-elite politik bukannya rakyat.
Penulis sendiri tidak mendukung penuh KMP atau KIH. Penulis beranggapan bahwa kedua arus besar perpolitikan Indonesia ini sama-sama mempertontonkan drama yang ingin menghancurkan satu sama lain. Kepentingan golongannya diagungkan, itulah oligarki yang hawanya sudah terasa di republik ini. Perlu dicatat, oligarki adalah musuh utama dari demokrasi. Objek kedaulatan di oligarki ialah mereka yang mempunyai kekuasaan dan akan terus berkuasa karena negara mereka yang atur. Jika sudah begini maka rakyatlah yang tersakiti. Alih-alih ingin menghadirkan perubahan tapi malah merasakan kesedihan.
Menurut pantauan penulis, rakyat sudah mulai merasakan kekhawatiran dan kegelisahan akan nasib bangsa ini lima tahun kedepan. Hal itu terlihat dari tulisan dan percakapan banyak orang yang skeptis akan nasib bangsa ini, ditambah lagi para anggota dewan yang baru terpilih sudah memperlihatkan tingkah laku buruk yang tidak mencerminkan sosok wakil rakyat. Rakyat juga semakin sedih ketika dua pendulum perpolitikan Indonesia saat ini benar-benar tidak lagi pro rakyat. Berita-berita mengenai pemakzulan presiden yang terlahir dari rakyat “Jokowi” juga semakin membuat hati rakyat gundah gulana.
Rakyat takut kelak kebijakan presiden yang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat harus tersandera di parlemen, padahal sama-sama kita tahu program-program presiden terpilih haruslah berdasarkan persetujuan parlemen. Selain itu rakyat juga takut presiden akan menghamba kepada parlemen karena bayang-bayang pemakzulan. Inilah derita rakyat bagaikan semut yang terjepit diantara pertempuran para gajah, apa hendak dikata akibat keegoisan dan keangkuhan, rakyat jadi korban.
KMP dan KIH bagaikan pisau yang telah membelah negara ini menjadi dua bagian. Masing-masing mempertontonkan kekuasaannya tanpa memperdulikan nasib rakyat dan perekonomian negara yang semakin terpuruk.
Kedewasaan Berpolitik
Kedua kubu koalisi adalah orang-orang cerdas yang berjuang mengatasnamakan rakyat. Lihatlah ketika juru bicara dari kedua koalisi, mereka selalu berkata “ini untuk kepentingan rakyat”, tapi mengapa rakyat seperti diacuhkan. Demokrasi itu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, oleh sebab itu persaingan kedua kubu harus segera diredam karena akan menimbulkan gejolak di grassroot (akar rumput) yang akan membuat perekonomian negara menjadi hancur yang mengakibatkan rakyat menderita.
Oleh sebab itu, diperlukan kedewasaan berpolitik untuk kedua kubu. Silahkan yang satu kuasai eksekutif dan satu kuasai legislatif, tapi bekerjalah sebenar-benarnya untuk kepentingan rakyat dan bukan atas keinginan golongan tertentu. Negara terbelah dua, biarlah sudah. Asalkan kepentingan rakyat benar-benar diperjuangkan. Sudah sewajarnya elite politik pengendali dua pendulum itu meletakkan keegoisannya dan bekerja sama untuk kesejahteraan rakyat.


Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar