Indonesia adalah negara yang mengagungkan paham
demokrasi dalam kehidupan bernegara. Kepentingan rakyat dijadikan acuan utama
dalam setiap pengambilan keputusan. Pemegang kekuasaan tertinggi, itulah
rakyat. Tapi, demokrasi itu seakan mati dan berganti menjadi oligarki yang
membuat negara terpecah menjadi dua. Layaknya perang dunia terdahulu, blok
barat melawan blok timur. Inilah realita yang sekarang terjadi di Indonesia.
Dua kubu yang sama-sama
mengatasnamakan rakyat terlihat begitu bergairah dalam bersuara dan
mempertontonkan haus akan kekuasaan. Mental pecundang yang tak siap kalah
menjadi dewa dalam hati elite-elite yang ingin memarginalisasikan pemerintah
yang telah diberi mandat oleh rakyat.
Dua kubu itu ialah
Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). KIH adalah koalisi
partai yang menghantarkan presiden terpilih Jokowi-JK menduduki singgasana
kepresidenan, dengan kata lain posisi eksekutif resmi dipegang oleh KIH. Di
sisi lain, parlemen (legislatif) dikuasai sepenuhnya oleh KMP. Negara Indonesia
seakan terpecah menjadi dua. Polarisasi hasil pilpres terus membuat hati rakyat
menjadi galau membayangkan kondisi negara ini lima tahun kedepan.
Adanya polarisasi yang
sangat mencolok antara KIH dan KMP mengakibatkan kondisi negara menjadi absurd
dan mengkhawatirkan. Perekonomian menjadi tidak stabil, investor “angkat koper”
lari menjauhi Indonesia. Harga saham dan rupiah semakin melemah saja. Pasar
melhat efek negatif perihal ini, sekiranya jika polarisasi terus memanas dan
mempertontonkan keegoisan bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami “krisis
moneter jilid II”, yang pada akhirnya membuat rakyat kembali menderita.
Hawa
Oligarki
Melihat kondisi
perpolitikan Indonesia yang menghadirkan dua pendulum politik yang senantiasa
bertabrakan, seakan menasbihkan bahwa Indonesia perlahan-lahan menanggalkan
asas kedaulatan rakyat sebagaimana esensi dari demokrasi. Demokrasi seakan kata
tanpa makna yang jelas. Kedaulatan rakyat perlahan-lahan hanya tinggal isapan
jempol belaka. Indonesia sudah mulai terasa sebagai negara penganut oligarki.
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh
beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. Pembuktian
hawa oligarki ini yakni dengan pemerintahan yang berdasarkan kepentingan
kelompok seperti KIH dan KMP yang dikendalikan oleh elite-elite politik
bukannya rakyat.
Penulis sendiri tidak
mendukung penuh KMP atau KIH. Penulis beranggapan bahwa kedua arus besar
perpolitikan Indonesia ini sama-sama mempertontonkan drama yang ingin
menghancurkan satu sama lain. Kepentingan golongannya diagungkan, itulah
oligarki yang hawanya sudah terasa di republik ini. Perlu dicatat, oligarki
adalah musuh utama dari demokrasi. Objek kedaulatan di oligarki ialah mereka
yang mempunyai kekuasaan dan akan terus berkuasa karena negara mereka yang
atur. Jika sudah begini maka rakyatlah yang tersakiti. Alih-alih ingin
menghadirkan perubahan tapi malah merasakan kesedihan.
Menurut pantauan
penulis, rakyat sudah mulai merasakan kekhawatiran dan kegelisahan akan nasib
bangsa ini lima tahun kedepan. Hal itu terlihat dari tulisan dan percakapan
banyak orang yang skeptis akan nasib bangsa ini, ditambah lagi para anggota
dewan yang baru terpilih sudah memperlihatkan tingkah laku buruk yang tidak
mencerminkan sosok wakil rakyat. Rakyat juga semakin sedih ketika dua pendulum
perpolitikan Indonesia saat ini benar-benar tidak lagi pro rakyat.
Berita-berita mengenai pemakzulan presiden yang terlahir dari rakyat “Jokowi”
juga semakin membuat hati rakyat gundah gulana.
Rakyat takut kelak
kebijakan presiden yang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat harus tersandera
di parlemen, padahal sama-sama kita tahu program-program presiden terpilih haruslah
berdasarkan persetujuan parlemen. Selain itu rakyat juga takut presiden akan
menghamba kepada parlemen karena bayang-bayang pemakzulan. Inilah derita rakyat
bagaikan semut yang terjepit diantara pertempuran para gajah, apa hendak dikata
akibat keegoisan dan keangkuhan, rakyat jadi korban.
KMP dan KIH bagaikan
pisau yang telah membelah negara ini menjadi dua bagian. Masing-masing
mempertontonkan kekuasaannya tanpa memperdulikan nasib rakyat dan perekonomian
negara yang semakin terpuruk.
Kedewasaan
Berpolitik
Kedua kubu koalisi
adalah orang-orang cerdas yang berjuang mengatasnamakan rakyat. Lihatlah ketika
juru bicara dari kedua koalisi, mereka selalu berkata “ini untuk kepentingan
rakyat”, tapi mengapa rakyat seperti diacuhkan. Demokrasi itu pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, oleh sebab itu persaingan kedua kubu
harus segera diredam karena akan menimbulkan gejolak di grassroot (akar rumput)
yang akan membuat perekonomian negara menjadi hancur yang mengakibatkan rakyat
menderita.
Oleh sebab itu,
diperlukan kedewasaan berpolitik untuk kedua kubu. Silahkan yang satu kuasai
eksekutif dan satu kuasai legislatif, tapi bekerjalah sebenar-benarnya untuk
kepentingan rakyat dan bukan atas keinginan golongan tertentu. Negara terbelah
dua, biarlah sudah. Asalkan kepentingan rakyat benar-benar diperjuangkan. Sudah
sewajarnya elite politik pengendali dua pendulum itu meletakkan keegoisannya
dan bekerja sama untuk kesejahteraan rakyat.

0 komentar:
Posting Komentar