Opini : Puasa dan Indahnya Perbedaan (Medan Bisnis, 2 Juli 2014)

Bulan indah, bulan yang penuh berkah dan bulan yang dinanti umat muslim di seluruh dunia telah hadir menghiasi hari-hari kita. Adanya bulan Ramadhan yang ditandai dengan kegiatan berpuasa masyarakat muslim semakin menambah keindahan ketika hal itu terjadi di negeri yang penuh pluralitas tingkat tinggi seperti Indonesia.
Penulis ingin sedikit bercerita betapa indahnya perbedaan itu di negeri ini. Penulis adalah orang bersuku karo dan tinggal bersama mayoritas warga jawa yang sangat kental adat istiadatnya. Kebiasaan warga tempat tinggal penulis ketika menjelang ramadhan adalah melakukan aktifitas “punggahan”. Punggahan ini adalah adat istiadat masyarakat jawa sebagai tanda rasa syukur kepada tuhan YME serta berdoa untuk leluhur serta sanak-saudara yang telah meninggal yang biasa dilakukan ketika menyambut kedatangan bulan suci ramadhan.
Dalam acara punggahan ini banyak makanan yang hadir sebagai bekal dari mereka yang datang. Makanan itu dimasak oleh warga sekeliling, dengan kata lain akan terjadi pertukaran makanan antar orang yang hadir pada acara punggahan itu, tak peduli suku apa yang hadir dalam acara itu, jawa, batak, melayu, padang dan suku yang lainnya, semua bersatu padu membaca doa dan bertukar makanan, tidak ada rasa enggan untuk memakan makanan yang dimasak oleh suku lain. Kegiatannya tak berhenti sampai disitu saja, ada nasihat serta doa dari sesepuh dengan menggunakan bahasa jawa halus, lalu berbagai suku yang hadir dengan patuh dan sopan mendengarkan sebagai tanda menghargai, meskipun ia tidak tahu apa arti dari ucapan sesepuh itu. Inilah indahnya perbedaan di negeri tercinta. Bhineka Tunggal Ika, adalah sebuah semboyan sakti yang menjadi bingkai penyatu perbedaan seluruh insan di negeri pancasila.
Pada bulan puasa, indahnya perbedaan itu semakin terasa. Mereka yang menganut agama berbeda juga merasa bahagia dan bertingkah menghargai umat muslim yang sedang berpuasa. Ketika waktu makan siang tiba, dengan senang hati warga non muslim bersembunyi untuk makan sebagai tanda menghargai muslim yang sedang berpuasa. Sejauh mata ini memandang toleransi dan tenggang rasa terkhusus di pedesaan daerah Deli Serdang tempat penulis tinggal masih dijunjung tinggi dan dijadikan sebagai sebuah keniscayaan.
Pasar yang menjajakan makanan yang hanya ada ketika bulan ramadhan juga tak luput menjadi tempat bagi mereka yang beragama non muslim untuk membeli makanan khas bulan ramadhan. Inilah sebuah pertanda kebahagian bulan ramadhan dirasakan bagi mereka yang beragama non muslim sehingga tidak heran bagi mereka yang beragama non muslim senantiasa bertingkah sopan dalam rangka menghargai mereka yang berpuasa.
Sebuah Pendidikan
Rasa toleransi dan tenggang rasa antar sesaama manusia (terkhusus SARA) yang penulis ceritakan disini adalah sebuah keniscayaan dan patut dijadikan sebuah pendidikan untuk dipelajari dan ditanamkan disanubari kita semua. Tentu masih ingat kita kejadian intoleransi di Yogyakarta yang cukup menghebohkan. Hal-hal seperti ini adalah sebuah tanda pengikisan rasa toleransi.
Mungklin diantara kita tidak asing dengan toleransi, tapi masihkah kita ingat dengan arti dari tenggang rasa yang sering kita pelajari di sekolah dasar dulu?. Penulis rasa arti dari tenggang rasa mulai dilupakan atau bahkan tidak lagi diingat oleh kebanyakan dari kita.
Tenggang rasa itu ialah adanya ikut menghargai orang lain, artinya ada rasa sensitifitas yang tinggi dalam rasa mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain. Intoleransi yang terjadi di Yogyakarta mungkin sudah berjalan dengan tidak adanya tenggang rasa, sehingga hal absurd seperti itu dapat terjadi di daerah yang konon terkenal dengan keramah-tamahan penduduknya.
Perlu dicatat dahulu Penjajah memakai politik Devide Et Impera untuk menghancurkan bangsa ini. Dipecah belah baru dikuasai. Tentu tidak ada satupun insan di negeri ini yang ingin mencicipi kembali belenggu penjajahan itu, maka dari itu adanya rasa toleransi dan tenggang rasa harus dijadikan sebagai pendidikan yang senantiasa membimbing kita dalam menjalani hari demi hari di republik tercinta.
Cerita tentang “punggahan” yang penulis ceritakan adalah segelintir contoh bahwa rasa saling menghargai perlambang indahnya perbedaan masih banyak terjadi di negeri ini. Terkhusus di bulan yang penuh berkah ini, mari kita jaga kerukunan antar umat bergama. Perlu dicatat bahwa sejarah kelam dulu ketika dipecah belah penjajah harus dijauhkan dari negeri ini, bangsa ini bangsa yang besar, sekiranya keberagaman adalah kunci kesuksesan negeri ini.

Bagi kita umat muslim, lihat penghargaan yang diberikan mereka yang non muslin, sekiranya ketika mereka itu sedang beribadah mari jaga kenyamannya. Toleransi dan tenggang rasa harus dijadikan sebuah pendidikan di tambah lagi ketika diri sedang berpuasa maka saatnya membenahi diri kearah yang lebih baik lagi. Tak peduli apapun latar belakangnya, tak peduli perbedaan agama, suku dan ras, kita adalah saudara sebangsa dan setanah air, maka sudah seharusnya untuk menjaga dan merawat toleransi dan tenggang rasa. Percayalah perbedaan itu indah.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar