Bulan indah, bulan yang penuh berkah dan bulan yang
dinanti umat muslim di seluruh dunia telah hadir menghiasi hari-hari kita.
Adanya bulan Ramadhan yang ditandai dengan kegiatan berpuasa masyarakat muslim
semakin menambah keindahan ketika hal itu terjadi di negeri yang penuh
pluralitas tingkat tinggi seperti Indonesia.
Penulis ingin sedikit
bercerita betapa indahnya perbedaan itu di negeri ini. Penulis adalah orang
bersuku karo dan tinggal bersama mayoritas warga jawa yang sangat kental adat
istiadatnya. Kebiasaan warga tempat tinggal penulis ketika menjelang ramadhan
adalah melakukan aktifitas “punggahan”. Punggahan ini adalah adat istiadat
masyarakat jawa sebagai tanda rasa syukur kepada tuhan YME serta berdoa untuk
leluhur serta sanak-saudara yang telah meninggal yang biasa dilakukan ketika
menyambut kedatangan bulan suci ramadhan.
Dalam acara punggahan
ini banyak makanan yang hadir sebagai bekal dari mereka yang datang. Makanan
itu dimasak oleh warga sekeliling, dengan kata lain akan terjadi pertukaran
makanan antar orang yang hadir pada acara punggahan itu, tak peduli suku apa
yang hadir dalam acara itu, jawa, batak, melayu, padang dan suku yang lainnya,
semua bersatu padu membaca doa dan bertukar makanan, tidak ada rasa enggan
untuk memakan makanan yang dimasak oleh suku lain. Kegiatannya tak berhenti
sampai disitu saja, ada nasihat serta doa dari sesepuh dengan menggunakan
bahasa jawa halus, lalu berbagai suku yang hadir dengan patuh dan sopan
mendengarkan sebagai tanda menghargai, meskipun ia tidak tahu apa arti dari
ucapan sesepuh itu. Inilah indahnya perbedaan di negeri tercinta. Bhineka
Tunggal Ika, adalah sebuah semboyan sakti yang menjadi bingkai penyatu
perbedaan seluruh insan di negeri pancasila.
Pada bulan puasa,
indahnya perbedaan itu semakin terasa. Mereka yang menganut agama berbeda juga
merasa bahagia dan bertingkah menghargai umat muslim yang sedang berpuasa. Ketika
waktu makan siang tiba, dengan senang hati warga non muslim bersembunyi untuk
makan sebagai tanda menghargai muslim yang sedang berpuasa. Sejauh mata ini
memandang toleransi dan tenggang rasa terkhusus di pedesaan daerah Deli Serdang
tempat penulis tinggal masih dijunjung tinggi dan dijadikan sebagai sebuah
keniscayaan.
Pasar yang menjajakan
makanan yang hanya ada ketika bulan ramadhan juga tak luput menjadi tempat bagi
mereka yang beragama non muslim untuk membeli makanan khas bulan ramadhan.
Inilah sebuah pertanda kebahagian bulan ramadhan dirasakan bagi mereka yang
beragama non muslim sehingga tidak heran bagi mereka yang beragama non muslim
senantiasa bertingkah sopan dalam rangka menghargai mereka yang berpuasa.
Sebuah
Pendidikan
Rasa
toleransi dan tenggang rasa antar sesaama manusia (terkhusus SARA) yang penulis
ceritakan disini adalah sebuah keniscayaan dan patut dijadikan sebuah
pendidikan untuk dipelajari dan ditanamkan disanubari kita semua. Tentu masih
ingat kita kejadian intoleransi di Yogyakarta yang cukup menghebohkan. Hal-hal
seperti ini adalah sebuah tanda pengikisan rasa toleransi.
Mungklin
diantara kita tidak asing dengan toleransi, tapi masihkah kita ingat dengan
arti dari tenggang rasa yang sering kita pelajari di sekolah dasar dulu?.
Penulis rasa arti dari tenggang rasa mulai dilupakan atau bahkan tidak lagi
diingat oleh kebanyakan dari kita.
Tenggang
rasa itu ialah adanya ikut menghargai orang lain, artinya ada rasa sensitifitas
yang tinggi dalam rasa mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain. Intoleransi
yang terjadi di Yogyakarta mungkin sudah berjalan dengan tidak adanya tenggang
rasa, sehingga hal absurd seperti itu dapat terjadi di daerah yang konon
terkenal dengan keramah-tamahan penduduknya.
Perlu
dicatat dahulu Penjajah memakai politik Devide
Et Impera untuk menghancurkan bangsa ini. Dipecah belah baru dikuasai.
Tentu tidak ada satupun insan di negeri ini yang ingin mencicipi kembali
belenggu penjajahan itu, maka dari itu adanya rasa toleransi dan tenggang rasa
harus dijadikan sebagai pendidikan yang senantiasa membimbing kita dalam
menjalani hari demi hari di republik tercinta.
Cerita
tentang “punggahan” yang penulis ceritakan adalah segelintir contoh bahwa rasa
saling menghargai perlambang indahnya perbedaan masih banyak terjadi di negeri
ini. Terkhusus di bulan yang penuh berkah ini, mari kita jaga kerukunan antar
umat bergama. Perlu dicatat bahwa sejarah kelam dulu ketika dipecah belah
penjajah harus dijauhkan dari negeri ini, bangsa ini bangsa yang besar,
sekiranya keberagaman adalah kunci kesuksesan negeri ini.
Bagi
kita umat muslim, lihat penghargaan yang diberikan mereka yang non muslin,
sekiranya ketika mereka itu sedang beribadah mari jaga kenyamannya. Toleransi
dan tenggang rasa harus dijadikan sebuah pendidikan di tambah lagi ketika diri
sedang berpuasa maka saatnya membenahi diri kearah yang lebih baik lagi. Tak
peduli apapun latar belakangnya, tak peduli perbedaan agama, suku dan ras, kita
adalah saudara sebangsa dan setanah air, maka sudah seharusnya untuk menjaga
dan merawat toleransi dan tenggang rasa. Percayalah perbedaan itu indah.

0 komentar:
Posting Komentar