Ketika terjadi suatu
bencana alam dengan sendirinya masyarakat akan mengungsi ke tempat lebih aman
begitu juga dengan pelajar dengan sendirinya mengungsi yang karena hal itu
aktifitas belajar dan mengajar akan terganggu, melihat dunia pendidikan
terganggu maka sepatutnya hati kita bersedih melihat dan berpikir tentang pendidikan
bagi pengungsi. Satu alasan yang mendasari mengapa hati harus bersedih jika pendidikan
teranggu yakni karena pendidikan adalah dunia yang foundamental dalam kehidupan
setiap insan manusia untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara,
meskipun karena bencana alam sekalipun.
Bencana alam yang
terdekat yang bisa kita lihat lalu rasakan ialah bencana alam yang di sebabkan
erupsi dari gunung tertinggi di Sumatera Utara yakni gunung sinabung. Ribuan
jiwa berpindah ketempat yang lebih aman demi kesalamatan dan kelangsungan
hidupnya. Lewat tulisan ini ijinkan saya sedikit bercerita tentang pengalaman
tentang aksi sosial dalam membantu para pengungsi sebagai aplikasi dari tri
dharma perguruan tinggi.
Pada hari minggu
(23/11/2013) saya bersama teman almamater saya terjun langsung memberi bantuan
kepada para pengungsi di jalan jamin ginting tepatnya di masjid agung, Kabanjahe.
Pada waktu itu saya melakukan pengajaran dan permainan ala kadarnya kepada
anak-anak pengungsian dan memberikan peralatan sekolah sebagai reward atas
pertanyaan pendidikan yang saya berikan, melihat wajah para anak-anak yang
mengungsi itu merupakan suatu kesyukuran yang luar biasa sebab wajah mereka
mengisyaratkan suatu kegembiraan atas perlakuan dari orang-orang yang peduli
padanya begitu juga dengan orang tua dari bocah-bocah yang mungkin tidak tahu
mengapa kehidupan mereka harus berubah untuk sementara waktu, kebanyakan dari
mereka sangat senang karena anaknya mendapat pengetahuan serta hadiah.
Dari kejadian ini
terdapat benang merah yang bisa di jadikan kesimpulan bahwasanya anak-anak di
pengungsian merindukan adanya pendidikan yang bersifat menghibur diri mereka
begitu juga dengan para pengungsi yang lebih tua. Sudah kian jenuh, keruh dan
kesal memikirkan nasib yang tak tentu kapan bisa beraktifitas kembali. Sudah
sewajarnya ada kegiatan yang dapat menghibur hati mereka yang sekarang sedang
terluka, serta pendidikan dimana tawa dan canda menjadi hal yang utama.
Menurut sumber yang
saya di dengar dari pengungsi di mesjid agung itu perihal aktifitas belajar mengajar
tetap di lakukan di suatu tempat dengan sistem mengabungkan anak-anak yang berbeda
sekolah di satu tempat demi tetap terselenggaranya aktifitas pendidikan
meskipun keadaan tidak meguntungkan.
Hal ini sejatinya
merupakan suatu hal yang melegakan hati meskipun menyedihkan. Melegakan hati
yakni anak-anak yang mengungsi itu tetap dapat mendapat ilmu meskipun dalam
keadaan berduka tapi yang menyedihkan yakni bagaimana anak-anak itu akan
beradaptasi dengan lingkungan dan pengabungan yang dilakukan, tetapi terlepas
dari itu semua hal ini patut di contoh dalam penangulangan bencana di daerah
lain sebab pendidikan
Mereka yang masih belia
masih belum begitu mengerti secara jelas mengapa mereka harus mengungsi, harus
terbebani dan merugi dengan terkendalanya pendidikan mereka. Sepatutnya
belia-belia emas yang akan jadi penerus bangsa itu di selamatkan baik pikiran
dan hatinya.
Di pengungsian terlihat
seorang anak tidak bisa ikut tertawa lepas ketika ada hal yang mengembirakan
yang dilakukan dari relawan di karenakan dirinya sedang sakit, Sungguh miris
hati melihat mereka semua. Hujan kedinginan panas kepanasan hanya terus
merintih dan memelas bantuan dari mereka yang peduli.
Ketika melihat
anak-anak itu hidup di pengungsian sungguh miris melihatnya, bagaimanakah di
malam hari apakah mereka itu akan belajar layaknya pelajar pada umumnya. Program
pengabungan belajar mengajar yang saya dapat informasinya dari pengungsi di
masjid agung itu apakah juga di berlakukan untuk semua tempat pengungsian atau
tidak, saya juga tidak tahu. Namun jika di berlakukan secara sistematis untuk
penyelamatan pendidikan anak-anak adalah sebuah wujud kepudilan yang nyata
sebab pendidikan tidak bisa terhenti apapun alasanya.
Pendidikan dan
pengungsian harus tetap menjadi sebuah korelasi yang sepatutnya bersinergi
secara gamblang demi mewujudkan replika kehidupan yang indah meski di balut
lewat kemasan kesakitan akibat sebuah bencana yang tak satupun insan di dunia
menginginkannya. Sudah sepatutnya kita semua selaku insan yang sejatinya bersaudara
dengan sesama manusia lainnya dengan rela hati membantu dan turun tangan
meringankan beban mereka terutama bagi kaum pelajar dan mahasiswa yang berkutat
di dunia pendidikan membantu agar anak-anak di pengungsian sana tetap mendapat
ilmu meskipun kondisinya tidak menguntungkan.
Pendidikan harus tetap
di rasakan oleh pelajar yang mengungsi akibat erupsi sinabung itu agar
anak-anak itu tidak berhenti menghirup hawa pendidikan meskipun dalam kondisi
yang memilukan karena seperti yang sudah di katakan sebelumnya bahwa pendidikan
adalah dunia yang tidak boleh berhenti apapun ceritanya.
Pendidikan yang
mengajarkan mereka tentang mengapa mereka harus mengungsi serta pendidikan yang
mengajarkan tentang ada berkah dari setiap musibah. Lewat tulisan ini saya sedikti
mengetuk hati kita wahai pemuda agar dengan senang hati membantu anak-anak di
pengungsian lewat pendidikan yang bernuansakan hal ceria agar anak-anak di
pengungsian tetap merasa di perhatikan, sebab hal seperti ini memiliki efek
ganda. Efek ganda itu ialah jika anak-anak di pengungsian di pedulikan lewat
pendidikan yang ceria maka orang tua akan bahagia juga karena anaknya di
pedulikan oleh orang banyak. Jadi secara garis besar meskipun di pengungsian
sekalipun pendidikan harus tetap terselenggara dan yang menyelenggarakannya tak
lain tak bukan ialah kita sebagai insan muda yang menggangap pengungsi itu
saudara setanah air kita.

0 komentar:
Posting Komentar