Pengungsi dan Pendidikan (Analisa, 27 November 2013)

Ketika terjadi suatu bencana alam dengan sendirinya masyarakat akan mengungsi ke tempat lebih aman begitu juga dengan pelajar dengan sendirinya mengungsi yang karena hal itu aktifitas belajar dan mengajar akan terganggu, melihat dunia pendidikan terganggu maka sepatutnya hati kita bersedih melihat dan berpikir tentang pendidikan bagi pengungsi. Satu alasan yang mendasari mengapa hati harus bersedih jika pendidikan teranggu yakni karena pendidikan adalah dunia yang foundamental dalam kehidupan setiap insan manusia untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, meskipun karena bencana alam sekalipun.
Bencana alam yang terdekat yang bisa kita lihat lalu rasakan ialah bencana alam yang di sebabkan erupsi dari gunung tertinggi di Sumatera Utara yakni gunung sinabung. Ribuan jiwa berpindah ketempat yang lebih aman demi kesalamatan dan kelangsungan hidupnya. Lewat tulisan ini ijinkan saya sedikit bercerita tentang pengalaman tentang aksi sosial dalam membantu para pengungsi sebagai aplikasi dari tri dharma perguruan tinggi.
Pada hari minggu (23/11/2013) saya bersama teman almamater saya terjun langsung memberi bantuan kepada para pengungsi di jalan jamin ginting tepatnya di masjid agung, Kabanjahe. Pada waktu itu saya melakukan pengajaran dan permainan ala kadarnya kepada anak-anak pengungsian dan memberikan peralatan sekolah sebagai reward atas pertanyaan pendidikan yang saya berikan, melihat wajah para anak-anak yang mengungsi itu merupakan suatu kesyukuran yang luar biasa sebab wajah mereka mengisyaratkan suatu kegembiraan atas perlakuan dari orang-orang yang peduli padanya begitu juga dengan orang tua dari bocah-bocah yang mungkin tidak tahu mengapa kehidupan mereka harus berubah untuk sementara waktu, kebanyakan dari mereka sangat senang karena anaknya mendapat pengetahuan serta hadiah.
Dari kejadian ini terdapat benang merah yang bisa di jadikan kesimpulan bahwasanya anak-anak di pengungsian merindukan adanya pendidikan yang bersifat menghibur diri mereka begitu juga dengan para pengungsi yang lebih tua. Sudah kian jenuh, keruh dan kesal memikirkan nasib yang tak tentu kapan bisa beraktifitas kembali. Sudah sewajarnya ada kegiatan yang dapat menghibur hati mereka yang sekarang sedang terluka, serta pendidikan dimana tawa dan canda menjadi hal yang utama.
Menurut sumber yang saya di dengar dari pengungsi di mesjid agung itu perihal aktifitas belajar mengajar tetap di lakukan di suatu tempat dengan sistem mengabungkan anak-anak yang berbeda sekolah di satu tempat demi tetap terselenggaranya aktifitas pendidikan meskipun keadaan tidak meguntungkan.
Hal ini sejatinya merupakan suatu hal yang melegakan hati meskipun menyedihkan. Melegakan hati yakni anak-anak yang mengungsi itu tetap dapat mendapat ilmu meskipun dalam keadaan berduka tapi yang menyedihkan yakni bagaimana anak-anak itu akan beradaptasi dengan lingkungan dan pengabungan yang dilakukan, tetapi terlepas dari itu semua hal ini patut di contoh dalam penangulangan bencana di daerah lain sebab pendidikan
Mereka yang masih belia masih belum begitu mengerti secara jelas mengapa mereka harus mengungsi, harus terbebani dan merugi dengan terkendalanya pendidikan mereka. Sepatutnya belia-belia emas yang akan jadi penerus bangsa itu di selamatkan baik pikiran dan hatinya.
Di pengungsian terlihat seorang anak tidak bisa ikut tertawa lepas ketika ada hal yang mengembirakan yang dilakukan dari relawan di karenakan dirinya sedang sakit, Sungguh miris hati melihat mereka semua. Hujan kedinginan panas kepanasan hanya terus merintih dan memelas bantuan dari mereka yang peduli.
Ketika melihat anak-anak itu hidup di pengungsian sungguh miris melihatnya, bagaimanakah di malam hari apakah mereka itu akan belajar layaknya pelajar pada umumnya. Program pengabungan belajar mengajar yang saya dapat informasinya dari pengungsi di masjid agung itu apakah juga di berlakukan untuk semua tempat pengungsian atau tidak, saya juga tidak tahu. Namun jika di berlakukan secara sistematis untuk penyelamatan pendidikan anak-anak adalah sebuah wujud kepudilan yang nyata sebab pendidikan tidak bisa terhenti apapun alasanya.
Pendidikan dan pengungsian harus tetap menjadi sebuah korelasi yang sepatutnya bersinergi secara gamblang demi mewujudkan replika kehidupan yang indah meski di balut lewat kemasan kesakitan akibat sebuah bencana yang tak satupun insan di dunia menginginkannya. Sudah sepatutnya kita semua selaku insan yang sejatinya bersaudara dengan sesama manusia lainnya dengan rela hati membantu dan turun tangan meringankan beban mereka terutama bagi kaum pelajar dan mahasiswa yang berkutat di dunia pendidikan membantu agar anak-anak di pengungsian sana tetap mendapat ilmu meskipun kondisinya tidak menguntungkan.
Pendidikan harus tetap di rasakan oleh pelajar yang mengungsi akibat erupsi sinabung itu agar anak-anak itu tidak berhenti menghirup hawa pendidikan meskipun dalam kondisi yang memilukan karena seperti yang sudah di katakan sebelumnya bahwa pendidikan adalah dunia yang tidak boleh berhenti apapun ceritanya.
Pendidikan yang mengajarkan mereka tentang mengapa mereka harus mengungsi serta pendidikan yang mengajarkan tentang ada berkah dari setiap musibah. Lewat tulisan ini saya sedikti mengetuk hati kita wahai pemuda agar dengan senang hati membantu anak-anak di pengungsian lewat pendidikan yang bernuansakan hal ceria agar anak-anak di pengungsian tetap merasa di perhatikan, sebab hal seperti ini memiliki efek ganda. Efek ganda itu ialah jika anak-anak di pengungsian di pedulikan lewat pendidikan yang ceria maka orang tua akan bahagia juga karena anaknya di pedulikan oleh orang banyak. Jadi secara garis besar meskipun di pengungsian sekalipun pendidikan harus tetap terselenggara dan yang menyelenggarakannya tak lain tak bukan ialah kita sebagai insan muda yang menggangap pengungsi itu saudara setanah air kita.


Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar